UNTUK MUTASI MASUK KE MIN 2 KOTA SURABAYA Klik Disini!

Nasihat yang Terlupa: Ketika Diri Sendiri Menjadi Orang Asing

Pengembangan Literasi dan Karya Guru MIN 2 Kota Surabaya
Identitas Buku
Judul Nasihat yang Terlupa: Ketika Diri Sendiri Menjadi Orang Asing
Nama Pengarang La Jamilu (Guru MIN 1 Tuban | Pegiat Literasi)
Penerbit Indie Publisher
Tahun Terbit 2026

Disampaikan Oleh :
Nama Guru Dewi Arlifah Cahyani, S,Pd., M.Pd.
Hari/ Tanggal Kamis, 18 Juli 2026

Judul Resensi
Nasihat yang Terlupa: Ketika Diri Sendiri Menjadi Orang Asing

Subtansi Isi
Seorang guru, orang tua, atau pemimpin sering kali menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya untuk menasihati orang lain. Kita sibuk memperbaiki karakter anak didik, meluruskan perilaku yang menyimpang, dan menyusun kata-kata bijak agar didengar oleh dunia luar. Namun, di tengah kesibukan tersebut, sebuah pertanyaan retoris yang tajam sering kali luput kita tanyakan pada diri sendiri: Seberapa sering kita menasihati orang lain, tapi lupa menasihati diri sendiri? Buku Nasihat yang Terlupa: Ketika Diri Sendiri Menjadi Orang Asing karya La Jamilu hadir sebagai sebuah jeda yang teduh. Di tengah hiruk-pikuk tuntutan sosial dan profesional, buku ini mengajak kita untuk sejenak berhenti, duduk berhadapan dengan cermin batin, dan menyapa kembali diri kita yang mungkin sudah lama terasing akibat terlalu sibuk mengurusi dunia luar.

Buku ini mengusung tema besar tentang self-reflection (refleksi diri) dan self-dialogue (dialog batin). Penulis membagi perjalanan membaca ke dalam tiga fase waktu kehidupan manusia yang dinamis:

  • Masa Lalu (Penuh Pelajaran): Bagaimana kita berdamai dengan kegagalan, luka, dan keputusan salah di masa lalu untuk kemudian menjadikannya fondasi kebijaksanaan hari ini.
  • Masa Kini (Penuh Tantangan): Bagaimana menjaga kesadaran penuh (mindfulness) agar tidak terseret arus ekspektasi sosial dan tetap membumi di tengah berbagai tekanan hidup saat ini.
  • Masa Depan (Menanti dengan Harapan): Bagaimana merancang masa depan tanpa rasa cemas yang berlebihan, melainkan dengan optimisme yang realistis.

Melalui untaian kalimat di sampul belakang, penulis menyampaikan pesan inti yang sangat kuat: "Sebab, orang pertama yang paling layak diberi nasihat, diingatkan, dan dibantu menjadi lebih baik adalah diri kita sendiri."

Buku ini menegaskan bahwa sebelum kita melangkah keluar untuk memperbaiki dunia atau mendidik generasi penerus, kesadaran dan perbaikan itu harus dimulai dari dalam diri sendiri. Nasihat terbaik bukanlah sekadar rangkaian kata-kata indah yang keluar dari lisan, melainkan teladan nyata yang lahir dari kesadaran hati yang terdalam.

Kelebihan Buku
  • Desain Sampul yang Sangat Filosofis dan Representatif: Visual sampul depan mengekspresikan isi buku secara sempurna. Gambar sosok pria berwibawa mengenakan pakaian formal (jas dan peci) yang menghadap cermin melambangkan status sosial dan tanggung jawab moral kita di dunia luar. Sementara itu, pantulan di dalam cermin—sosok yang berjalan pergi menuju cakrawala cahaya—merepresentasikan perjalanan batin spiritual kita untuk menemukan kembali hakikat diri yang sejati.
  • Pesan Introspeksi yang Lembut namun Menusuk: Buku ini tidak menggunakan pendekatan menggurui atau menghakimi. Sebaliknya, gaya tulisan La Jamilu terasa seperti obrolan hangat dengan seorang sahabat lama di sore hari yang sunyi, membuat pesan-pesannya yang tajam terasa damai di hati.
  • Sangat Relevan untuk Pendidik (Guru): Sebagai seorang praktisi pendidikan, penulis memahami betul beban moral seorang guru. Buku ini menjadi oase bagi para guru untuk melakukan "detoksifikasi mental" agar tidak mengalami kejenuhan (burnout) dalam mendidik.
Kekurangan Buku

Karena sifatnya yang sangat reflektif dan filosofis, buku ini membutuhkan tempo membaca yang lambat dan tenang agar setiap pesannya dapat diresapi dengan baik. Pembaca yang terbiasa dengan buku motivasi praktis to-the-point yang berisi langkah-langkah konkret (seperti tips 1-2-3) mungkin perlu melatih kesabaran untuk menikmati keindahan narasi kontemplatif di dalam buku ini.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Nasihat yang Terlupa adalah sebuah panduan spiritual dan psikologis yang sangat indah untuk merawat kesehatan mental. Buku ini mengajarkan kita bahwa mencintai dan menasihati diri sendiri bukanlah tindakan egois, melainkan sebuah prasyarat mutlak sebelum kita mampu memberikan cinta dan nasihat terbaik kita kepada orang lain.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para guru, dosen, orang tua, pemimpin organisasi, serta siapa saja yang sering memikul tanggung jawab membimbing orang lain. Ini adalah sebuah pengingat bahwa sebelum kita memimpin dunia, kita harus selesai memimpin diri kita sendiri.(TM)

image_title_here
MIN 2 Kota Surabaya

Youtube



Instagram
Tap Simulator Codes
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
MIN 2 KOTA SURABAYA Assalamu'alaikum
Ada yang bisa kami bantu ?
Klik Disini...